Masih tertinggal,
Bayanganmu,
Yang telah membekas,
Di lubuk hatiku,
Masih lagi diulit,
Memori manis bersamamu.
Memoir pertama kita,
Masih segar di ingatan,
Saat kita berkenalan,
Dan dirimu,
Tersenyum mesra,
Itulah dia,
Senyuman yang pertamamu,
Terhadapku.
Senyumanmu,
Tawamu,
Keletahmu,
Menghiburkan diriku,
Yang selalu sunyi,
Bhagia sungguh diri ini.
Tatkala dirimu,
Telah mengetahui,
Cintaku pada sahabatmu,
Jelas,
Cahaya muram,
Terpancar di wajahmu,
Namun,
Kau masih berlagak ceria,
Di hadapanku,
Adakah aku menyakiti hatimu?
Kebahagiaan itu,
Akhirnya berlalu,
Pabila badai fitnah,
Terus melanda,
Yang ingin meruntuhkan,
Perhubungan suci ini,
Saat diriku difitnah,
Saat diriku disakiti,
Aku menangis,
Menangis kerana dirimu,
Memikirkan,
Hubungan kita berakhir seperti ini.
Lantas dirimu,
Membenci diriku,
Atas dasar kata-kata orang,
Yang tak jelas mengatakan diriku,
Mereka,
Memperlakukan diri kita sebegini.
Kau,
Kau terus menyakiti hatiku,
Kau terus menggores hatiku,
Hingga parah bernanah,
Berkurun lamanya,
Manyimpan luka ini,
Parutnya masih kelihatan,
Bisanya boleh dirasai.
Sehingga kita,
Memasuki fasa baru,
Kau masih sebegitu,
Tatkala,
Diriku masih membencimu,
Kau ingin menjalin ikatan terhadapku.
Ingin aku,
Memberi peluang kedua,
Terhadap dirimu,
Namun,
Gelodak pula menanti,
Sahabatku,
Menaruh hati padamu,
Menanam cinta terhadapmu,
Aku, akhirnya terkedu.
Akhirnya, kita bermesra kembali,
Kembali seperti dulu,
Walupun lukanya masih terasa,
Kau mula tersenyum manis,
Berpewatakan baik,
Dihadapanku.
Memang bahagia saat itu,
Melihat kau tersenyum mesra,
Seperti dulu,
Berbicara denganmu,
Seperti takdir,
Menyebelahi kita,
Kali ini.
Takdir,
Tinggal takdir,
Kau kembali seperti dulu,
Menyakiti hatiku lagi,
Terus sakitkan jiwa ini,
Tidakkah kau merasainya,
Aku telah mencintaimu,
Sepenuh jiwaku,
Namun, kau tidak mengerti.
Karena keadaan yang menentukan seperti ini,
Juga, demi sahabat yang erat,
Aku ingin melepaskanmu
Membuang dirimu jauh-jauh,
Dari hatiku.
Dan sekarang,
Kau membenci diriku,
Dan kebencianmu,
Kian mendalam,
Tanpa ku ketahui,
Apa sebabnya.
Hai kasih,
Pelbagai sembilu,
Dan duri dalam percintaan kita,
Impian, hanya impian,
Kita tidak boleh
Membina mahligai yang indah,
Bersama-sama,
Mungkin, bukan saat ini.
Melupakanmu, bagai mimpi ngeri,
Bagiku,
Aku butuh waktu,
Seumur hidup,
Untuk membuang,
Dirimu dari diriku.
Mungkin,
Kita akan bersama nanti, di taman syurgawi,
Biar aku yang setia,
Menjaga cintamu,
Selamanya.
Aku redha, Aku ikhlas dengan ketentuan Ilahi,
Moga kita akan, Mencapai kebahagiaan Di taman nirwana, Amin.......


No comments :
Post a Comment